Semalam di grup WhatsApp, seorang kawan bercerita tentang mimpinya. Mimpi yang sederhana saja, mimpi untuk menjadi seorang Ibu Rumah Tangga. “I just want to be a pious wife and mom.. G a lebih dari itu.. Ga pingin kerja kantoran..” Jujur saja saya merasa salut. Mungkin jika yang berkata begitu seseorang seperti saya yang tak punya titel, akan biasa saja rasanya. Tapi kawan saya ini menempuh pendidikannya di luar negri, dengan jurusan yang tidak biasa pula bagi perempuan sepertinya. Saya sering melihat wanita yang bertitel dan ingin segera mengaplikasikan keahliannya dengan bekerja di luar rumah. Tapi tidak dengan kawan-kawan saya ini. Mereka dengan titel yang berderet dan membanggakan, justru memilih untuk mengabdikan diri di rumah. Tak sedikit cibiran orang ketika kawan-kawan saya itu memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga. “Sayang ya kuliah tinggi tinggi, ke luar negeri lagi.. Ujung-ujungnya cuma diem di rumah.. Sayang ilmunya.. “ ujar mereka dengan nada menyesalkan. Padahal jika ...